Rabu, 19 Juli 2006 pukul 16.00 WIB di Kompleks Balai Pemuda jl.Gubernur Suryo 15 Surabaya.Ide Pertunjukkan:Penolakan terhadap teori Evolusi Charles Robert Darwin pertengahan abad 19.Sinopsis:EVOLUSI ORANG-ORANG MENJADI KERA.Kera awalnya memang tinggal di hutan, mencari makan untuk anak istrinya dari pohon-pohon, orang-orang datang membabati pohon-pohon, membabati hutan-hutan, dijadikan hutan, ditumbuhi pohon-pohon tapi dari beton, kera mencuri makan orang, orang mebunuh kera, orang makan kera, orang mencuri makan orang, orang-orang mencuri makan orang, orang-orang membunuh orang, orang-orang makan orang, orang-orang makan orang-orang, anak istri kera tidak bisa makan.Konsep pertunjukkan:Pemikiran ini berangkat dari suatu penafsiran bebas atau asumsi-asumsi yang menolak tentang teori Evolusi Charles Robert Darwin, seorang kebangsaan Inggris pada pertengahan abad 19 tentang manusia merupakan hasil evolusi dari kera. Hal ini merupakan bentuk pengingkaran secara besar-besaran terhadap keTuhanan dari seorang atheisme yang berpaham materialistik. Teori ini meyakini bahwa keberagaman makhluk hidup merupakan produk evolusi dari makhluk hidup sebelumnya/ nenek moyangnya yang beradaptasi dengan lingkungannya, dan ini menunjukkan adanya indikasi yang menafikan Tuhan.Di sisi lain teori Darwin adalah bentuk rasisme yang menganggap ras orang kulit putih lebih unggul dan orang Negro atau suku Aborigin adalah ras terendah yang lebih mendekatai evolusi kera.Performance art yang ditampilkan malah mencoba bertolak dari seluruh persoalan ini semua: evolusi Charles Robert Darwin adalah evolusi lain yang berbanding terbalik atau tidak fisikal tapi lebih substansial mengenai perubahan watak/sifat/naluri: Evolusi orang-orang menjadi kera, sebah penafsiran, asumsi dan imajinasi yang sangat sederhana yakni dari persoalan makan. Makan bukan hanya masalah fungsional untuk menambah energi bagi tubuh dan kelangsungan hidup semata, lebih dari itu ada sisi etika maupun estetika dari berbagai seremonial yang ditawarkan dalam satu perjamuan, diasmping itu sisi yang paling penting adalah makan merupakan kegiatan atau pekerjaan yang mempunyai nilai spiritualitas. Pada masa purba/primitif orang melakukan kegiatan spiritual atau upacara ritual tertentu sebelum berburu arau mencari makanan, begitu juga setelah memperoleh hasil buruan/makanan. Dalam berbagai kepercayaan maupun agama manapun kita juga diajari berdoa sebelum makan, di luar itu niscaya terjadi distorsi atau pergeseran dari sebuah nilai/kegiatan spiritual yang memunculkan kerakusan/kerakusan.
-
Lahir di Surabaya 12 februari 1984, tinggal di kampung Dupak Masigit IV/5 Surabaya. Pengalaman berkesenian diawali sebagai pengamen bis kota jurusan bungurasih-tanjung perak, yang kemudian bertemu dan bergabung dengan teman-teman teater Sanggar Soerobojo mulai tahun 1999 sampai 2002. Ikut memprakarsai berdirinya Sanggar lingkaran (sanggar anak-anak di Surabaya) tahun 2003. Pada tahun 2004 mulai bergabung dengan Teater Api Indonesia Surabaya dan aktif sebagai kru panggung di berbagai pementasan dan festival seni di surabaya tahun 2005 hingga sekarang. Terlibat di team artistik beberapa performance art ILHAM J.BADAY tahun 2004:-Pesta Kematian (teras DPRD Kota Surabaya)-Peradaban Sampah (bantaran Kalimas dan perempatan Jl.Pemuda):performance art Ilham J.Baday dan soundscape Vitra Ebbes.-Masyarakat Penjaja kemaluan (depan Balai Kota Surabaya)-Indonesia’s dream (Depo sampah kayun surabaya).Sebagai penata cahaya pada tur monolog Sarip Tambak Oso (Ilham J.Baday) tahun 2006 di Bandung dan Malang.Kontak person: telp 031- 35 79 553.Workshop: SUKUBENGI-Yayasan Informasi dan Jaringan Kebudayaan-Jl.Ahmad Jais 130 surabaya telp 031 71548748 (M Saleh), hp 031- 6062 82 93 (luhur ), 085850509296 (M saleh), 08133320 8090 (iim/luhur), 081 70341 72 88 (mita), fax 031- 54 91 052..Email:slametgaprax@gmail.com
| |
|